Sejarah Madrasah Darussalam


 


Dari Kesederhanaan Musala Menuju Cahaya Ilmu yang Tak Pernah Padam.


Sejarah besar sering kali tidak lahir dari kemegahan, melainkan dari kesederhanaan yang disertai ketulusan, kesabaran yang panjang, serta keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang diniatkan karena Allah akan berbuah keberkahan. Demikianlah kisah berdirinya Madrasah Darussalam. Apa yang hari ini berdiri kokoh bukan semata bangunan fisik, melainkan himpunan doa yang tak pernah putus, ketaatan para santri, serta barakah pengabdian para guru mulia yang mengikhlaskan hidupnya demi ilmu.

Sejarah ini tidak hanya mencatat rentetan peristiwa, tetapi juga merekam perjuangan batin, pengorbanan waktu, tenaga, dan keikhlasan yang tumbuh perlahan dalam kehidupan masyarakat. Madrasah Darussalam lahir bukan dari perencanaan besar, melainkan dari kebutuhan umat akan cahaya ilmu dan bimbingan agama yang berkelanjutan.


Masa-Masa Awal (Jauh Sebelum Tahun 1984): Mengaji di Musala Panggung.

Sebelum tahun 1984, denyut pendidikan di tempat ini masih berjalan dalam kesederhanaan yang sangat nyata. Belum ada ruang kelas permanen, belum dikenal meja dan bangku yang tertata. Pada mulanya, hanya ada satu musala yang digunakan sebagai pusat kegiatan belajar dan ibadah masyarakat. Seiring bertambahnya santri dan kebutuhan akan ruang belajar, kemudian berdirilah dua musala panggung sederhana yang dikenal dengan sebutan langger lao’ dan langger dejeh. Kedua musala tersebut tidak mampu lagi menampung jumlah santri yang terus meningkat, sehingga ruang (gang) di antara musala satu dan musala dua pun terpaksa digunakan sebagai ruang kelas tambahan. Keduanya berdiri di atas tiang-tiang kayu, beralas tikar anyaman daun lontar yang dibuat secara tradisional.

Kedua langger tersebut bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan pusat kehidupan keagamaan masyarakat. Di sanalah nilai-nilai keislaman ditanamkan sejak dini, dari generasi ke generasi, dalam suasana yang penuh kesederhanaan namun sarat makna.

Di musala inilah kehidupan ruhani bersemi. Tempat para santri menimba ilmu agama, memahami dasar-dasar akidah, fikih, dan akhlak. Di sini juga para santri mula-mula belajar mengeja huruf hijaiyah dengan suara terbata, melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.

Proses belajar berlangsung dengan metode sorogan dan bandongan sederhana. Para santri mendekat kepada guru, mendengarkan dengan penuh perhatian, mengulang bacaan, dan menerima koreksi dengan lapang dada. Adab kepada guru menjadi pelajaran pertama sebelum ilmu ditanamkan.

Dinding musala terbuat dari anyaman bambu yang renggang, membiarkan angin malam masuk tanpa sekat. Ketika hujan turun, suara rintiknya berpadu dengan lantunan ayat suci. Belum ada aliran listrik; lampu minyak menjadi satu-satunya penerang. Nyala apinya kecil dan bergetar, kadang menghitamkan langit-langit dengan jelaga.

Kondisi ini menuntut kesabaran dan ketabahan. Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh kesungguhan yang mendalam, sebab para santri menyadari bahwa setiap kesulitan dalam menuntut ilmu adalah bagian dari jalan keberkahan.

Namun justru di bawah cahaya redup itulah tumbuh jiwa-jiwa tangguh. Para santri duduk bersila dengan penuh adab, sarung terlipat rapi, kepala tertunduk khidmat saat guru menyampaikan pelajaran. Dingin, lelah, bahkan lapar, tak menjadi penghalang. Mereka datang dengan hati yang bersih dan tekad yang kokoh, karena meyakini bahwa ilmu agama adalah cahaya kehidupan.

Semangat ini perlahan membentuk karakter santri yang sederhana, rendah hati, dan kuat secara spiritual, yang kelak menjadi fondasi utama berkembangnya Madrasah Darussalam.


Titah Sang Guru Mulia: Amanah yang Menjadi Titik Balik

Seiring berjalannya waktu, semangat belajar para santri kian membara. Jumlah mereka terus bertambah, sementara musala panggung yang sederhana mulai terasa sempit. Kebutuhan akan tempat belajar yang lebih layak pun semakin nyata, meski belum ada keberanian untuk bermimpi terlalu tinggi.

Situasi ini menandai fase penting: kesadaran kolektif bahwa perjuangan pendidikan agama memerlukan wadah yang lebih terstruktur agar kesinambungan ilmu dapat terjaga.

Dalam perjalanan takdir Allah, niat suci tersebut sampai kepada pandangan batin seorang ulama besar. Guru Mulia Kiai Abdullah Schal, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Cholil, melihat potensi besar dari semangat para pencari ilmu di tempat ini. Dengan kejernihan hati dan pandangan visioner, beliau menyadari bahwa perjuangan ini memerlukan wadah yang lebih teratur dan berkesinambungan.

Beliau tidak hanya melihat kondisi lahiriah, tetapi membaca kesiapan ruhani masyarakat dan santri yang telah matang untuk melangkah ke jenjang pendidikan madrasah.

Dengan penuh kasih sayang, beliau menyampaikan titah agar didirikan sebuah madrasah. Titah itu bukan sekadar perintah, melainkan amanah spiritual yang mengandung tanggung jawab besar bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Amanah tersebut diterima dengan penuh ketundukan. Tanpa ragu dan tanpa banyak pertanyaan, perintah guru dijawab dengan sikap sami‘na wa atha‘na. Dari titik inilah, lembaran baru sejarah Madrasah Darussalam mulai ditorehkan.

Penerimaan amanah ini menjadi titik balik yang menentukan arah perjalanan pendidikan Islam di tempat tersebut, dari pengajian tradisional menuju lembaga madrasah yang lebih terorganisir.


Musyawarah dan Persatuan: Langkah Awal Kebangkitan.

Menyadari bahwa amanah sebesar ini tidak mungkin dipikul sendiri, diundanglah para tokoh agama, sesepuh kampung, serta masyarakat sekitar untuk bermusyawarah. Pertemuan dilakukan secara sederhana di musala dengan suasana kekeluargaan dan keikhlasan.

Musyawarah ini menjadi ruang penyatuan niat, tempat menyatukan tekad antara guru, santri, dan masyarakat, bahwa madrasah ini akan dibangun bersama-sama.

Dalam musyawarah itu, niat mendirikan madrasah disampaikan dengan jujur dan apa adanya. Tidak ada janji fasilitas mewah, tidak ada target besar yang muluk. Yang ada hanyalah tekad tulus untuk menyediakan tempat belajar agama yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Alhamdulillah, niat baik tersebut disambut dengan hati yang lapang. Masyarakat sepakat untuk bersatu. Setiap orang berkomitmen membantu sesuai kemampuan masing-masing. Bagi mereka, turut serta dalam pembangunan madrasah adalah kehormatan sekaligus investasi akhirat. Sejak saat itu, madrasah bukan lagi milik satu orang, melainkan menjadi milik bersama umat.


Gotong Royong dan Tirakat: Bangunan yang Lahir dari Keringat dan Doa.

Musyawarah tidak berhenti pada kata-kata. Ia segera menjelma menjadi tindakan nyata. Proses awal pembangunan dipimpin langsung oleh sang penggerak utama Kyai Usman Marwaqi. Beliau turun langsung, menggali tanah liat dengan tangannya sendiri, membuat batu kapur sendiri, hal ini menjadi teladan hidup bagi santri dan masyarakat.

Keteladanan inilah yang menggerakkan hati banyak orang, bahwa perjuangan ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan laku tirakat dan pengabdian.

Para santri pun ikut ambil bagian. Mereka menggali tanah, mengaduk lumpur, dan mencetak batu bata merah satu per satu. Tangan mereka kotor oleh tanah, kaki mereka basah oleh lumpur, namun wajah mereka memancarkan keikhlasan. Setiap bata dicetak dengan niat menjadi saksi amal jariyah.

Dukungan masyarakat mengalir tanpa henti. Ada yang menyumbangkan kayu untuk rangka bangunan, ada yang memikul batu gunung dari tempat yang jauh untuk pondasi. Sebagian warga turun ke sungai mengumpulkan kerikil sebagai campuran adukan. Para ibu menyiapkan hidangan sederhana—nasi, sayur, dan sambal—yang terasa begitu nikmat karena dimakan bersama dalam suasana kebersamaan.

Dari hasil gotong royong masyarakat dan para santri itulah, dengan izin Allah, akhirnya berdirilah kokoh empat ruang kelas sederhana. Bangunan itu mungkin tidak megah, namun setiap dindingnya menyimpan keringat perjuangan, setiap bata menjadi saksi amal jariyah, dan setiap sudutnya dipenuhi doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus.

Empat ruang kelas inilah yang menjadi tonggak awal berdirinya Madrasah Darussalam secara resmi, sekaligus simbol kemenangan keikhlasan atas keterbatasan. Pada masa itu, istilah “kelas” belum dikenal dalam sistem pembelajaran. Pembagian kelompok belajar masih menggunakan sebutan “sipir”. Sipir A setara dengan kelas 1A, sipir B setara dengan kelas 1B, dan sipir C setara dengan kelas 1C.


Kyai Usman Marwaqi Sowan Kepada Kyai Abdullah Schal.

Setelah gedung madrasah berdiri dan mulai digunakan sebagai tempat belajar para santri, Kiai Usman Marwaqi merasa bahwa ikhtiar lahiriah tersebut harus disempurnakan dengan ikhtiar batiniah. Dengan penuh kesadaran bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada doa dan restu guru, beliau kemudian mempersiapkan diri untuk sowan.

Dengan adab yang tinggi dan ketawadhuan seorang murid, Kiai Usman Marwaqi sowan kepada Guru Mulia Kiai Abdullah Schal, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Cholil, untuk menyampaikan kabar bahwa gedung madrasah telah berdiri serta memohon doa dan restu agar perjuangan tersebut diridhai oleh Allah.

Dalam sowan tersebut, Kiai Usman Marwaqi menyampaikan perjalanan panjang yang telah dilalui, mulai dari masa pengajian di langger lao’ dan langger dejeh, proses musyawarah bersama masyarakat, hingga gotong royong santri dan warga dalam mendirikan gedung madrasah. Semua disampaikan dengan penuh kejujuran, rasa syukur, dan ketundukan sebagai seorang murid.

Kiai Abdullah Schal mendengarkan dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Setelah itu, beliau mendoakan agar madrasah yang telah berdiri tersebut menjadi tempat yang penuh keberkahan, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta bermanfaat bagi agama dan masyarakat. Beliau juga menyampaikan restu sepenuhnya atas berdirinya madrasah tersebut.

Sebagai bentuk doa, arahan, dan restu, Kiai Abdullah Schal kemudian memberikan dua pilihan nama untuk madrasah tersebut, yaitu “Darussalam” dan “Miftahul ‘Ulum”.

Nama Darussalam mengandung harapan agar madrasah ini menjadi tempat kedamaian, keselamatan, dan ketenteraman bagi para penuntut ilmu. Sedangkan nama Miftahul ‘Ulum bermakna kunci pembuka ilmu, sebagai doa agar madrasah ini menjadi pintu terbukanya berbagai ilmu yang bermanfaat dan membawa cahaya bagi umat.

Pemberian dua pilihan nama tersebut menjadi peneguhan ruhani bahwa madrasah ini berdiri tidak hanya atas usaha manusia, tetapi juga atas doa, restu, dan panduan para ulama. Sejak saat itu, madrasah ini melangkah dengan keyakinan bahwa arah perjuangannya telah berada dalam bimbingan guru dan keberkahan Allah.


Dari Doa Dan Restu Guru Menuju Identitas Madrasah.

Setelah menerima dua pilihan nama dari Guru Mulia Kiai Abdullah Schal, Kiai Usman Marwaqi tidak serta-merta menetapkan salah satunya. Dengan penuh kehati-hatian, beliau terlebih dahulu merenungi makna dari kedua nama tersebut, menyadari bahwa nama madrasah bukan sekadar identitas, melainkan doa panjang yang akan melekat sepanjang perjalanan lembaga pendidikan itu berdiri.

Nama “Darussalam” dipahami sebagai harapan agar madrasah ini menjadi rumah kedamaian, tempat para santri merasa aman, tenteram, dan nyaman dalam menuntut ilmu, serta menjadi pusat penanaman akhlak dan adab. Sementara “Miftahul ‘Ulum” dimaknai sebagai kunci pembuka ilmu, sebuah doa agar dari madrasah ini lahir generasi yang terbuka wawasannya, luas ilmunya, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan umat.

Dengan penuh ketawadhuan, Kiai Usman Marwaqi kemudian bermusyawarah dengan para tokoh agama dan sesepuh masyarakat. Dalam musyawarah tersebut, disepakati bahwa kedua nama itu tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan, karena keduanya saling melengkapi makna dan cita-cita pendidikan yang ingin diwujudkan.

Akhirnya, dengan niat yang lurus dan penuh harap akan keberkahan, ditetapkanlah nama madrasah tersebut sebagai “Madrasah Darussalam Miftahul ‘Ulum”. Nama ini menjadi simbol bahwa madrasah ini diharapkan menjadi tempat yang damai sekaligus pintu pembuka ilmu pengetahuan.

Sejak saat itu, nama Madrasah Darussalam Miftahul ‘Ulum tidak hanya menjadi sebutan administratif, melainkan identitas perjuangan, doa yang terus dipanjatkan, serta amanah besar yang dijaga oleh para guru, santri, dan seluruh masyarakat.

Nama tersebut menegaskan bahwa madrasah ini lahir dari kesederhanaan, tumbuh dengan keikhlasan, dan diarahkan untuk menjadi cahaya ilmu yang menenteramkan serta mencerahkan sepanjang zaman.


Madrasah Darussalam Hari Ini: Warisan Perjuangan yang Terus Hidup.

Dari tanah liat, batu gunung, kayu, serta doa-doa yang tulus, berdirilah bangunan madrasah sederhana. Anyaman bambu perlahan berganti tembok bata merah yang kokoh. Lampu minyak digantikan cahaya yang lebih terang. Namun nilai-nilai keikhlasan, adab, dan ketaatan tetap terjaga sebagaimana sejak awal. 

Kini, Madrasah Darussalam berdiri tegak sebagai benteng ilmu dan akhlak. Ia menjadi saksi bisu perjuangan masa lalu sekaligus pelita bagi generasi masa depan. Dari sinilah diharapkan lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam amal dan akhlak—berilmu amaliah dan beramal ilmiah.

Sejarah Madrasah Darussalam mengajarkan bahwa cahaya ilmu tidak bergantung pada kemewahan, melainkan pada ketulusan niat dan keberkahan para guru. Selama nilai-nilai itu dijaga, cahaya tersebut insya Allah akan terus menyala, menerangi zaman demi zaman.